Dahulukan Kaum difabel yang akan membaca blog ini
Dahulukan Anak anak dan Wanita yang akan membaca blog ini
Dahulukan orang tua jika ada yang akan membaca blog ini
Dilarang merokok diblog ini, kalo anda merokok, resiko silahkan tanggung sendiri
Dilarang Berteriak saat membaca blog ini, apalagi mengumpat dan memaki
Antara aku Indonesia Malaysia dan Blogger
Pagi tadi beberapa rekan memberikan pesan lewat YM berupa sebuah URL, dimana URL tersebut menuju ke sebuah blog di blogger, yg beralamat di http://ihateindon.blogspot.com/ Maaf rekan rekan yg emosian harap jangan pergi ke url tersebut daripada memperparah keadaan.
Ok disini aku mau memberikan sedikit komentar soal web itu, pada dasarnya web tersebut masih baru, baru di buat pada bulan November ini. dan isinya tentu saja semua hal tentang kejelekan negara kita Indonesia, entah itu benar halnya atau hanya sebuah ungkapan kekesalan mereka, aku sendiri malas untuk menyelidiki
Web seperti itu memang ada juga di Indonesia dan banyak juga postingan yg menjelekkan malaysia juga komentar komentarnya, maaf saya pribadi tidak mau berkomentar soal hal itu, hal itu mungkin adalah ungkapan kekesalan mereka terhadap malaysia, meskipun saya sendiri juga kesal dengan Malaysia tapi saya tidak akan memperburuk keadaan, paling tidak untuk diriku sendiri.
Seperti pada postingaku yg telah lalu, yaitu Indonesia Malaysia dari sisi lain aku sendiri cenderung menganjurkan untuk berkaca / instropeksi pada diri sendiri, kenapa mengapa dan bagaimana hal itu bisa terjadi. kemungkinan besar yang menulis pada Blog tersebut adalah rakyat biasa, bukan seorang pejabat pemerintahan atau orang yg bisa di anggap mewakili pemerintah malaysia. Jadi bagi saya pribadi cukup.. jangan diteruskan untuk memperparah keadaan, sebaiknya semua di usahakan dari jalan yg benar, diplomasi, perundingan antar kedua pemimpin negara atau lain lainnya yg bisa memperbaiki keadaan.
Ketua DPR Indonesia Agung Laksono sempat memberikan tanggapan seputar hal ini, Seperti pada Serangkaian kekerasan yang sering menimpa WNI di Malaysia memang menyakitkan. Namun, hal itu jangan disikapi secara emosional. Menurut beliau, masyarakat tidak perlu berlebihan menyikapi arogansi Malaysia. Tidak perlu, misalnya, mendengungkan lagi jargon Ganyang Malaysia yang dipopulerkan Soekarno pada 1963. “Dampak negatifnya hanya akan merugikan kedua negara,” ingat itu, dan mari kita pikirkan juga negara kita sebelum kita bertindak. Meski hanya sebatas tulisan.
Jika ada pertanyaan, “Lalu apa kepedulian dan usahamu terhadap semua peristiwa itu?” jelas sekali aku peduli, aku sendiri juga tidak mau negara yg kucintai ini di ejek di jelek jelekkan, aku juga tidak mau sodara sodaraku yg mengadu nasib disana di perlakukan dengan tidak manusiawi dan kejam, aku juga tidak mau melihat banyak keluarga yg putus persaudaraannya gara gara kedua negara bertikai, mungkin diantara mereka banyak yg bersaudara dengan kita di Indonesia, akan tetapi sudah menetap disana dan menjadi warga negara sana karena satu dan lain alasan.
Lalu apa yg harus dilakukan untuk tidak memperburuk keadaan dan membuat semua masalah ini selesai?
1. Berusaha sendiri.
Sore tadi aku telah menuntut ke blogger untuk menghapus blog itu, akan tetapi sepertinya pihak blogger tidak bisa, atas kebijakan mereka (meskipun setahuku harusnya bisa) lewat report abuse di web blogger ku kirimkan pesan ke mereka untukmenghapus blog yang telah menghina dan menjelek jelekkan negaraku Indonesia, setelah beberapa jam kemudian tiba email balasan dari blogger, berikut balasannya:
“Hi there,
Thank you for your message. Please note that Blogger is a provider of content creation tools, not a mediator of that content. We allow our users to create blogs, but we don’t make any claims about the content of these pages. We strongly believe in freedom of expression, even if a blog contains unappealing or distasteful content or presents unpopular viewpoints. We realize this may be frustrating and we regret any inconvenience this may cause you. Given these facts, and pursuant with section 230(c) of the Communications Decency Act, Blogger does not remove allegedly defamatory, libelous, or slanderous material from Blogger.com or BlogSpot.com. In cases where contact information for the author is listed on the page, we recommend you working directly with this person to have the content in question removed or changed.
In cases where the author is anonymous, please note that in accordance with US state and federal law, it is Blogger’s policy to only provide a user’s contact information pursuant to a valid third party subpoena or other appropriate legal process.
Sincerely,
The Blogger Team”
ya pada intinya google tidak akan menghapus blog tersebut, dan mereka menganjurkan untuk berkomunikasi dengan pemilik blog tersebut secara langsung… whatt.. bagaimana bisa mereka mau berkompromi dengan kita, dan saya pikir hal ini juga akan terjadi jika pihak malaysia menuntut untuk menghapus segala cacian dan makian kita terhadap mereka.
Saya pribadi juga menyarankan kepada rekan rekan blogger untuk tidak membala semua kejahatan dan perbuatan tidak baik mereka dengan perbuatan yg tidak baik juga, kalo masing masing dari kita berusaha untuk meredam emosi dan berfikir dengan kepala dingin, tentu saja hal ini akan lebih cepat selesai, kita serahkan masalah ini kepada para ahli, kepada Pemerintah, tapi jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada mereka, kepada bangsa ini, bukan malah memperburuk citra bangsa dengan mencaci maki dan membalas semua perbuatan buruk mereka.
2. Usaha Para Pakar
Kenapa kita tidak meminta pada para pakar yg melek terhadap teknologi internet untuk bisa menyampaikan aspirasi rakyat bawah, terutama dari kita yg hanya bisa menuliskan aspirasi lewat blog? Misalkan saja kita minta Yg terhormat Pakar Telematika KRMT Roy Suryo maaf jika salah menuliskan nama, gelar dan jabatan, serasa di undangan saja, bukankah Roy suryo suaranya cukup vocal, dan bisa di dengar oleh para pejabat? kenapa beliau tidak menjadi rekan para blogger sesekali? saya yakin jika beliau mau bersahabat dengan para blogger dan membantu menyampaikan aspirasi ini maka beliau akan banyak di dukung oleh para blogger. Tentu saja jika keputusan dan ide beliau itu benar dan tidak ngasal
3. Usaha Pemerintah
Sebenernyapun pemerintah RI sudah menguasahakan hal ini, akan tetapi mungkin kurang keras usaha mereka, bahkan malaysia mengancam akan mengklain Bahasa Indonesia sebagai bahasa Melayu (bhs nasional malaysia) jika Indonesia terus menuntut soal lagu Rasa Sayange dan Reog Ponorogo. Lalu apakah pemerintah RI harus bediam diri dengan ancaman tersebut? lalu apakah pemerintah lantas harus mengalah dengan ancaman tersebut? dan lalu apa tindakan pemerintah terhadap semua ini? aku pikir Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI saja tidak cukup mewakili untuk menyelesaikan masalah ini. Harusnya Pemerintah bisa bersikap tegas akan hal ini. Bukan hanya dengan perundingan yg sifatnya hanya formalitas basa basi yg akhirnya menjadi basi beneran.
4. Presiden Harus Tegas
Bapak Presiden RI yg terhormat aku tidak yakin Bapak akan mendengar atau membaca blog ini, seharusnya Bapak tanggap dan tegas dalam menanggapi kasus ini, karena ini bukan masalah sepele, tetapi mencakup disintegrasi bangsa, ancaman terhadap bangsa ini, meskipun bukan berupa ancaman fisik, akan tetapi ancaman ini lebih besar dari yg kita perkirakan jika kita terlalu lemah menanggapi hal ini. Bapak Presiden haru tegas, kalo benar tolong katakan benar, kalo salah tolong juga katakan salah, Hitam atauy putih katakan dengan jelas, anda kami pilih, kami beri kepercayaan untuk memimpin kami, untuk membawa kami kearah lebih baik. Jadi saya pribadi mohon, tolong berikan suatu keputusan yang membawa kita kearah lebih baik, meski itu menyakitkan paham kan maksut saya.
5. Berkaca pada sejarah
Mungkin ini usaha terakhir yg bisa dilakukan, mari kita sejenak melihat masa lalu, di tahun 1963 di jaman kepemimpinan Bung karno rasanya enak menyebut beliau dengan Bung, lebih akrab dan bersahabat. Beliau benar benar tegas terhadap pihak asing, meskipun itu Amerika sebagai negara yg besar dan kuat.
Mari saudara saudara semua, kita galang peratuan dan kesatuan, Semangat itu rasanya sudah banyak luntur dan pupus dari hati sanubari kita, mari dengan adanya momentum ini kita lebih pererat persatuan kita, lebih mencintai negara kita dengan mengamalkan dan memperdalam pengetahuan kita tentang kebudayaan negeri sendiri, seperti lagu daerah, adat istiadat, kesenian daerah dll dsb etc.
MERDEKA!!
Tulisan terkait
- Pembodohan Ala Pers Malaysia
- To be Babu, No Way!!!
- Antara Kita dan Tetangga
- Waspadalah dengan malingsia.com
Aku Mendapatkan Sebuah Medali Kepahlawanan
Mungkin kalian heran.. bagaimana orang biasa seperti diriku ini bisa mendapatkan Medali seperti itu. Ceritanya sederhana sekali, dan entah kebetulan atau tidak tapi aku sendiri juga heran. Beberapa hari kemarin aku berkunjung ke blog nya Pak Yusril I.M dan disana menemukan link yg menarik, membawaku ke blognya Budayawan Muda serta Blognya Soegianto Sastrodiwiryo. Kebetulan Blog mereka berdua lagi hangat hangatnya membahas masalah seputar Presiden SBY mengangkat 4 pahlawan baru yang akhirnya menjadi sebuah polemik nasional. Yaitu pengangkatan Mayjen TNI (pur) Prof Dr Moestopo, pejuang dari Jawa Timur; dan Brigjen TNI (Anumerta) Ignatius Slamet Rijadi, pejuang asal Jawa Tengah. Seorang pahlawan nasional baru lainnya adalah Dr Ide Anak Agung Gde Agung. Yang menjadi masalah disini adalah pengangkatan Dr Ide Anak Agung Gde Agung sebagai pahlawan, dimana sang budayawan muda menuliskan Bila Oportunis Diangkat Pahlawan sedang Soegianto Sastrodiwiryo menuliskan Pejuang atau Pengkhianat.
Benar benar keduanya adalah penulis yg bagus, budayawan yg mengerti sejarah dan budaya yang menulis dengan menyertakan informasi dari berbagai sumber tanpa mengkesampingkan komentar dari beberapa visitor yg tidak mau menyebutkan jati dirinya. Ya memang pengangkatan Dr Ide Anak Agung Gde Agung itu penuh dengan kontroversial dari berbagai kalangan, antara lain dari masyarakat Minang yang berharap tokoh minang seperti Moh Natsir bisa diangkat menjadi pahlawan nasional, masyarakat Jawa Barat yang berharap tokoh Mr Sjafrudin Prawiranegara yang dianggap layak sebagai pahlawan nasionalpun mengalami nasib yang sama dengan tokoh M Natsir, dan masyarakat Jawa Timur yang merasa heran dan tidak habis pikir Bung Tomo sebagai tokoh utama dalam perang 10 November di Surabaya hingga membuat tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari pahlawan justru tidak diangkat sebagai pahlawan tahun ini.
Aku sendiri malah tidak tahu hal itu, bagaimana bisa Bung Tomo masih juga belum diangkat sebagai pahlawan? dan juga Sultan Hamengkubuono IX yang sangat berjasa kepada negara tidak juga diangkat sebagai pahlawan? Apakah Pihak keluarga atau Masyarakat harus mengemis pada pemerintah untuk itu? Bagaimana bisa kita lupa akan kata kata mutiara dari sesepuh kita Urip Sumoharjo, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawannya” harusnya pemerintah tanggap akan hal itu, tidak perlu menunggu pengajuan dari pihak keluarga atau masyarakat setempat, walau bagaimanapun Pahlawan sejati mereka tidak minta untuk di hormati, tidak minta untuk di beri gelar Pahlawan. Pemerintahlah yg seharusnya tanggap.
Ok.. disini aku pribadi tidak akan mengomentari panjang lebar soal pengangkatan Orang tersebut sebagai pahlawan, aku akan menceritakan bagaimana aku mendapatkan medali ini. Minggu sore kemarin tanggal 25 November aku berkunjung ke blog Soegianto dan meninggalkan sedikit komentar disana, memang tulisan tersebut bener bener memukau dan bagus, sampai aku sendiri jugatidak bisa berkomentar panjang, dan sebagian tulisan disini adalah juga hasil saduran dari sana.
Dan pada malam harinya, entah sebuah kebetulan atau tidak, aku temukan sebuah Medali, sepertinya memang ini medali yg diberikan kepada para pejuang atas jasa mereka, tapi kenapa Medali ini ada di tembok pagarku? lalu apa hubungannya antara Medali ini dengan peristiwa tersebut? apa hubungannya antara sedikit kepedulianku soal kepahlawanan dengan Medali ini?
berikut gambar medalinya:

untuk melihat versi besarnya silahkan klik pada gambar.
Lihatlah pada bagian muka (gambar 1) masih tertulis dengan ejaan lama, yaitu “Pradjurit” entah apa maksutnya dengan angka VIII. Medali ini kemungkinan besar terbuat dari perunggu (padahal berharap emas). Pada saat kutemukan medali tersebut sangat kusam berwarna hitam, kemudian ku poles dengan pembersih Logam dan jadi cemerlang seperti gambar tersebut.
Sampai saat ini aku terus bertanya tanya, apakah ini hanyalah sebuah kebetulan, atau sebuah tanda? kalo kebetulan kok aneh banget, kenapa bisa medali itu ada di tembok pagarku, kalo pertanda, pertanda apakah itu?
Wallahu ‘alam.
